|
SYAMSUL
BACHRI
Kasih
Sayang Ibu
Hujan belum deras namun angin sangat
kencang. Dingin mulai menusuk tulang. Cuaca hari ini tidak mempengaruhiku untuk
segera meninggalkan jendela kamarku. Aku masih senang di sini. Mengamati banyak
hal. Mobil-mobil yang sibuk berpacu di jalan raya, perkampungan kumuh yang
sangat kontras dengan lingkungan kami, juga anak-anak yang sibuk berlari-larian
di jalan depan rumahku. Dari jendela ini aku bisa menyaksikan semuanya.
Termasuk mengulang kembali memori sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang.
Perjalananku menikmati indahnya masa
kecil, masa kanak-kanak,dan masa remaja sekarang, penuh liku. Dimulai dari
mengenal dunia remaja saat sekarang. Semuanya tidak lepas dari pengorbanan ibu.
Didetik pertama aku melihat dunia, ibu
tahu bahwa aku sangat ketakutan mendapati dunia yang berbeda dari kehidupan
indah sebelumnya di dalam rahim. Aku menangis sekuat-kuatnya untuk menunjukan
bahwa aku benar-benar takut dan takkan mampu hidup sendiri dalam kondisi yang
sangat lemah.
Tapi ketika itu pula, Ibu tahu ketakutan
yang aku rasakan. Ibu merapatkan tubuhku dan tubuhnya. Menyodorkan air murni
kehidupan dan mengusapkan jari lembutnya di punggung kecil ini. Hangat kecupnya
terasa dikening seraya berucap,
“ jangan takut nak,Ibu akan selalu
menemanimu sampai kapan pun.”
Mungkin, tangisan pertamaku sangat asing
di telinga Ibu. Tapi, ibu sangat cerdas luar biasa. Hanya perlu beberapa saat
saja, ibu sudah bisa memahami seribu bahasa yang keluar dari mulut mungil ku
ini. Ketika tiba-tiba ibu mampu membaca bibrku dan berkata,
“ Oooh, haus ya nak ..?”, dan tangisan
lain ibu menerjemahkan lain pula, “sakit yah nak, mana yang sakit?sini ibu
usap-usap ya...”.
Setiap malam aku menangis. Kadang karena
haus, lapar, ataupun buang air kecil. Ibu tidak pernah mengeluh. Ibu tetap
mengurusku, mengganti popok, membersihkan kotoranku, menyusuiku ketika aku
kehausan. Baru lima belas menit ibu terpejam, aku menagis lagi, kali ini karena
banyak nyamuk yang menggangu. Ibu tahu itu, sesungguhnya ibu tak pernah
benar-benar terlelap. Antara sadar dan tidak, ibu pasti terbangun setiap kali
si lkecil ini terdengar seraya sigap memberi apapun yang diinginkan.
Bukan hanya ketika bayi. Di saat aku
sudah memasuki usia remaja ini, ibu tetap saja masih menemaniku kemanapun. Ibu
selalu ada untukku. Ibu yang mendampingiku. Ketika aku mengikuti lomba, ibu
yang setia menungguku hingga usai, ibu
merasa tak terbebani jikalau aku ada kegiatan. Karena itu, ibu merasa tak
terbebani jikalau aku butuh sesuatu.
Walaupun begitu, aku bukan anak yang
selalu di manja oleh ibu. Ibu mendidikku dari kecil hingga saat ini. Mulai dari
cara yang sangat lembut hingga kasar. Pernah juga aku membenci ibu, mengangap
ibu tak tak sayang padaku. Tapi, semua yang aku pikirkan tentang kejelekan ibu
menjadi luntur,hilang seperti di telan bumi.
Tak kupungkiri, berkat jasa ibu
mendidikku terbalaskan oleh penghargaan yang telah banyak aku dapatkan. Di
mulai dari mendapatkan juara kelas berkali-kali, juara lomba Olimpiade setiap
perlombaannya dari tingkat keluraharn hingga kota.
Itu lah yang membuat ibu bangga
mempunyai anak sepertiku. Sebagaimana aku juga sanagat bangga mempunyai ibu
sepertinya. Karena ibu lah yang membuatku semangat untuk berprestasi. Tiada
habisnya ibu berjuang untuk membantuku demi persiapan di masa depanku kelak.
Ibu sadar, waktu terus berjalan dan tidak akan lama lagi aku akan beranjak
dewasa. Aku juga membutuhkan lebih banyak biaya sekolah nantinya.
Sedangkan, gaji ayah hanya mencukupi
untuk memenuhi kebutuhan setiap hari saja.
Saat aku duduk di kelas satu sekolah
kejuruan di kotaku, ketika itulah ibu mulai bekerja. Walaupun, ibu hanya
bekerja sebagai borongan di pabrik kayu. Gaajinya juga tak tentu, karena selama
sebulan ada beberapa hari khusus ibu tidak masuk kerja, di karenakan ada
kegiatan mengurus Posyandu di sekitar temapt tinggal kami. Kadang juga, ibu
harus terpaksa izin jikalau akan mengantarkanku ke kota mengikuti perlombaan
Olimpiade setiap tahunnya seperti biasa.
Selama bertahun-tahun itulah bakat melukisku
mulai meningkat. Dapat dibuktikan dengan beberapa prestasi hasil kerja kerasku
yang telah aku raih. Tapi, aku juga mencoba untuk tidak sombong, ibu juga yang
mengajarkanku itu. Sebab, aku sendiri masih perlu banyak pelajaran lagi untuk
jadi yang terbaik diantara yang baik. Paling tidak, aku ada peningkatan lagi
untuk mengikuti lomba Olimpiade tingkat provinsi.
Namun, ketika awalnya aku naik ke kelas
satu SMP ini, aku mendapatkan masalah yang sangat besar dan parah di sekolahku.
Aku hampir di DO bahkan dikeluarkan dari sekolah karena kelalaianku sendiri.
Aku tak dapat cerita banyak disini. Hal negatif yang aku lakukan membuat semua
orang tak percaya lagi padaku. Semuanya menganggap aku hanya sampah yang tak
pantas didunia ini. Jangankan menegur, melihaku saja tak sudi. Aku juga sudah
mengecewakan kedua orang tuaku. Terutama aku sudah mengecewakan ibu yang selalu
membanggakanku dan sudah banyak mengorbankan dirinya untuk masa depanku. Sempat
aku putus asa untuk tetap bersekolah disekolah yang aku banggakan. Sempat aku
ingin lari dari masalah ini. Aku menangis di depan semua orang. Menanggis di
depan Guru dan teman-temanku. Aku meminta ampun kepada Guru agar tidak
mengeluarkanku dari sekolah ini.
Sejak masalah itu hadir dalam
kehidupanku, aku sudah merepotkan dan mempermalukan keluargaku yang terbilang
memiliki nama baik. Tapi, aku tetap berdoa kepada Tuhan agar diberikan
kemudahan untuk keluar dari masalahku ini. Ibu mulai tau kelakuanku, tapi ibu
tetap tidak percaya dengan kelakuanku. Ibu juga sempat tetap ingin memukulku
dengan sebatang kayu ketika aku baru saja bedzikir seusai melaksanakan sholat
magrib. Namun, di urungkan niatnya. Ia tdak jadi memukulku setelah aku
menceritkan semua kepada ibu. Aku sedikit berbohong demi kebaikanku dan
keluargaku, serta demi kebaikan keluarga lain yang juga terikut dalam masalah
ini. Selepas aku bercerita, ibu langsung menunggalkanku tanpa ada secuilpun
tanggapan darinya. Entah kemana ia pergi?
Aku tahu, sepertinya ibu pergi kerumah
guru kaligrafiku untuk meminta pertolongan. Guruku memberi tahuku. Katanya, ibu
menanggis dan berharap masalahku cepat terselesaikan dan berharap aku tidak
dikeluarkan dari sekolahku.
***
Malam itu, hujan deras. Angin bertiup
sangat kencang. Namun, semua tak mengurungkan niatku yang akan melaksanakan
Sholat Tahajud sekitar pukul dua malam. Dengan khusyuk aku berdoa memohon
kepadaNYA agar masalahku tidak semakin rumit dan cepat terselesaikan.
Memohon ampun atas kesalahanku yang
telah mengecewakan semua orang-orang yang aku sayangi. Dengan lirih aku
meneteskan air mana yang tak bisa aku bendung, mulutku juga masih mengeluarkan
kata-kata indah Asma-Asma Allah. Tiba-tiba terdengar suara aneh yang
menggerakkan pikiranku untuk cepat-cepat mengakhiri shalatku.
Kudengar suara gemercik air mengalir
ketelingaku. Suara seseorang memasuki kamarku. Kuintip siapa hendak masuk ke
kamarku di kala aku mau menyambung tidur? Ternyata ibu yang sedang khusyuk
melaksanakan sholat.
“ tidak seperti biasanya Ibu bangun jam
segini untuk sholat ” pikiranku dalam hati.
Aku
terdiam sejenak setelah ibu menutup sholatnya dengan bacaan.
“ assalammualaikumm...”.
kuperhatikan ibu yang tak langsung melepaskan mukenanya. Suara tangisan kecil
mulai aku dengar. Aku merasakan ada luka yang dalam di hati ibu. Kubirkan ibu
menangis di antara detak jarum jam yang menikam dan mengiris.
Aku mendengar semua do’a, dan tangisan
ibu. Air mata ibu begitu indah berbulir-bulir penuh cahaya bagai permata. Aku
mulai merasakan, betapa kecewanya ibu karena kelalaianku. Ingin rasanya aku
hapus air mata ibu saat itu. Namun, aku tak sanggup, hatiku terasa ngilu
melihat kepilauan yang sedang dirasakan ibu. Kubiarkan ibu tetap mengeluarkan
air matanya, mungkin bisa memuaskan dan mengobati hatinya.
Karena do’a ibu, masalahku berakhir. Aku
tidak dikeluarkan dari sekolah. Tapi, aku tetap diberi sanksi dan membuat surat
pernyataan yang di tanda tangani ayahku. Aku ingin meminta maaf kepada ibu. Aku
ingin bersujud di kaki ibu.
Sejak masalah itu. Aku mulai menyusul
kembali hidupku dan memperbaiki kesalahan ku. Aku tak peduli seberapa banyak
orang yang membenciku saat itu, seberapa besarnya mereka tak percaya lagi
kepadaku. Seberapa besar aku mempunyai kesalahan, ibu selalu mengerti.
Pengorbanan, kasih sayang ketulusan,
kebaikan,dan kesetian ibu tak pernah berakhir hingga di ujung hidupnya. Sampai
sekarang dan sampai kapan pun, tak secuilpun aku mampu membalas semuanya. Ibu
yang melahirkanku dalam linangan air mata dengan hati bahagia. Do’a ibu selalu
dipanjatkan untukku. Meski raganya terkuras dan keringat telah kering. Ibu
selalu menemani hidupku dan menjadi sahabat terbaikku. Ibu tak pernah menyerah
untuk selalu membantuku dalam menggapai cita-citaku.
Tubuhku mulai lelah dan mataku sudah
lembab. Ku tutup jendela kamarku. Beristirahat dalam lelap.
Terima kasih, ibu.
Maafkan kesalahaku padamu selamanya.
“TAMAT”

